BNPB

BNPB Minta Jaringan Air Bersih Terhubung ke Seluruh Huntara di Aceh

BNPB Minta Jaringan Air Bersih Terhubung ke Seluruh Huntara di Aceh
BNPB Minta Jaringan Air Bersih Terhubung ke Seluruh Huntara di Aceh

JAKARTA - Ketersediaan air bersih menjadi perhatian utama pemerintah dalam memastikan para penyintas bencana di Aceh dapat menjalani aktivitas harian secara layak, terutama menjelang bulan suci Ramadhan. 

Dalam peninjauan langsung ke lokasi hunian sementara (huntara), Badan Nasional Penanggulangan Bencana menegaskan pentingnya jaringan pipa air bersih yang berfungsi optimal dan terhubung ke seluruh unit tempat tinggal sementara yang telah dibangun.

Permintaan tersebut disampaikan langsung oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua II Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera.

Instruksi itu diberikan kepada petugas lapangan saat melakukan peninjauan ke lokasi huntara di wilayah Pulo Tiga, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh.

Sebagaimana keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis, Suharyanto mengungkapkan bahwa air bersih termasuk kebutuhan yang mendesak selain logistik sembako bagi penyintas bencana di Aceh demi menunjang kelancaran mereka selama menjalankan ibadah selama bulan Ramadhan.

"Percepat pemenuhan kebutuhan mendesak, termasuk penyediaan suplai air bersih melalui jaringan pipa yang terhubung langsung ke fasilitas penampungan air di lokasi huntara," kata dia.

Peninjauan Langsung ke Lokasi Huntara

Dalam kunjungan tersebut, Suharyanto menekankan bahwa keterhubungan jaringan air bersih bukan sekadar fasilitas tambahan, melainkan kebutuhan pokok yang harus segera dipenuhi. Ia meminta jajaran di lapangan memastikan sistem distribusi air dapat menjangkau seluruh unit hunian sementara tanpa terkecuali.

Kehadiran pimpinan BNPB di lokasi menjadi bagian dari langkah percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di wilayah Sumatera, khususnya Provinsi Aceh. Selain memeriksa kondisi infrastruktur huntara, tim juga memastikan kesiapan sarana pendukung lainnya agar penyintas dapat tinggal dengan aman dan nyaman.

Suharyanto beserta jajaran pimpinan BNPB dalam beberapa hari ke depan dijadwalkan akan melakukan peninjauan sekaligus mendistribusikan bantuan logistik tambahan untuk ibadah puasa ke sejumlah penghuni huntara di wilayah Provinsi Aceh, antara lain Kabupaten Aceh Tamiang, Kabupaten Aceh Timur, Kabupaten Aceh Utara, dan Kota Langsa.

Data Huntara di Wilayah Aceh

Berdasarkan data Posko Satgas PRR wilayah Aceh, hingga dasarian kedua Februari telah berdiri sebanyak 8.562 unit rumah huntara yang dibangun pemerintah di provinsi tersebut. Jumlah ini menunjukkan skala respons pemerintah dalam menyediakan tempat tinggal sementara bagi warga terdampak bencana.

Huntara di Pulo Tiga merupakan salah satu fasilitas respons cepat kebencanaan yang dibangun oleh BNPB. Fasilitas tersebut telah dilengkapi dengan sumur, kamar mandi, WC, dapur, dan jaringan listrik sebagai bagian dari standar pelayanan dasar bagi para pengungsi.

BNPB melaporkan terdapat 30 keluarga yang menghuni huntara Pulo Tiga. Huntara ini mulai dimanfaatkan dalam sepekan terakhir, menyusul 1.295 unit huntara lainnya yang telah digunakan di Kabupaten Aceh Tamiang.

Keberadaan ribuan huntara tersebut menjadi bukti upaya percepatan penanganan pascabencana, sekaligus memastikan para korban tidak terlalu lama berada di pengungsian darurat.

Relokasi Warga Terdampak Banjir Bandang

Para penghuni huntara Pulo Tiga merupakan warga dari Dusun Tempel, Kecamatan Tamiang Hulu, Kabupaten Aceh Tamiang. Mereka direlokasi pemerintah setelah rumah-rumah mereka hancur akibat banjir bandang yang terjadi pada akhir November 2025.

Banjir bandang tersebut menyebabkan kerusakan signifikan pada permukiman warga, sehingga relokasi menjadi langkah yang diambil untuk menjamin keselamatan serta keberlanjutan kehidupan masyarakat terdampak. Dengan menempati huntara, para penyintas memiliki tempat tinggal yang lebih aman sembari menunggu proses rehabilitasi dan rekonstruksi hunian permanen.

Dalam konteks ini, penyediaan air bersih menjadi elemen vital. Selain untuk kebutuhan konsumsi dan sanitasi, air bersih juga berperan penting dalam menjaga kesehatan masyarakat, terutama di lingkungan hunian padat seperti huntara.

Prioritas Kebutuhan Mendesak Selama Ramadhan

Menjelang Ramadhan, kebutuhan dasar seperti air bersih dan logistik sembako menjadi perhatian khusus BNPB. Ketersediaan air yang memadai mendukung kelancaran aktivitas ibadah, mulai dari bersuci hingga kebutuhan memasak untuk sahur dan berbuka.

Instruksi percepatan yang disampaikan Suharyanto menegaskan bahwa pelayanan kepada penyintas harus bersifat menyeluruh dan responsif terhadap kebutuhan aktual di lapangan. 

Jaringan pipa air bersih yang terhubung langsung ke fasilitas penampungan di setiap lokasi huntara diharapkan dapat menjamin distribusi yang stabil.

Langkah ini sekaligus menunjukkan komitmen pemerintah dalam memastikan bahwa proses rehabilitasi tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak.

Dengan total 8.562 unit huntara yang telah berdiri di Aceh, tantangan utama adalah memastikan seluruh fasilitas pendukung berfungsi optimal. Keterhubungan jaringan air bersih menjadi salah satu indikator penting dalam menilai kesiapan dan kelayakan hunian sementara tersebut.

Melalui peninjauan langsung dan instruksi percepatan distribusi air bersih, BNPB menegaskan bahwa penanganan pascabencana harus dilakukan secara terintegrasi.

Pemenuhan kebutuhan mendesak, terutama menjelang bulan suci, menjadi prioritas agar para penyintas dapat menjalani kehidupan sementara di huntara dengan lebih layak dan bermartabat.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index