JAKARTA - Industri furnitur Indonesia menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir.
Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) meyakini ekspor furnitur nasional akan mencapai enam miliar dolar AS per tahun dalam lima tahun mendatang. Optimisme ini muncul karena potensi pasar global yang besar, dukungan pameran internasional, serta strategi ekspansi ke pasar baru.
Ketua Umum HIMKI, Abdul Sobur, menegaskan bahwa industri furnitur dan kerajinan masih memegang peran strategis dalam perekonomian nasional.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor mebel memberikan kontribusi 12,2 persen dari subsektor kerajinan, menunjukkan bahwa sektor ini menjadi salah satu penopang utama produk kreatif Indonesia.
Potensi Pasar Furnitur Global
Abdul Sobur menilai peluang pertumbuhan industri furnitur di pasar global sangat besar. Mengacu pada data Allied Market Research, nilai pasar furnitur dunia diproyeksikan mencapai lebih dari 1.160 miliar dolar AS pada 2034, meningkat dari 736 miliar dolar AS pada 2023, dengan pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sebesar 4,2 persen.
“Pasar furnitur dunia masih akan terus membaik. Target kami adalah merealisasikan ekspor enam miliar dolar AS. Selain pasar utama seperti Amerika Serikat dan Eropa, kami mendorong anggota untuk membuka peluang ke Timur Tengah dan Afrika,” ujar Sobur.
Hal ini menunjukkan strategi HIMKI tidak hanya fokus pada pasar tradisional, tetapi juga proaktif menembus pasar baru yang potensial.
Dukungan Pameran Internasional
Salah satu upaya nyata untuk mendorong ekspor furnitur nasional adalah penyelenggaraan Indonesia International Furniture Expo (IFEX) di ICE BSD, Tangerang, Banten, pada 5–8 Maret 2026.
Pameran ini menjadi platform business-to-business (B2B) global, mempertemukan pelaku industri furnitur Indonesia dengan pembeli internasional melalui kegiatan business matching.
Pameran seperti IFEX tidak hanya menampilkan produk, tetapi juga menjembatani pelaku usaha untuk memahami tren global, kebutuhan pasar, dan preferensi konsumen internasional.
Menurut Sobur, pameran ini menjadi motor penggerak ekspor, apalagi dengan kondisi geopolitik global yang dinamis. “Kemitraan yang kuat dan akses pasar yang andal menjadi semakin penting,” tegas Sobur.
Selain itu, HIMKI memastikan kenyamanan dan kelancaran pameran dengan menjalin komunikasi intensif dengan peserta dan pembeli internasional. Langkah ini penting untuk membangun kepercayaan dan menjaga reputasi industri furnitur nasional di mata dunia.
Peran Kementerian Perindustrian dan Fasilitas Pendukung
Penyelenggaraan IFEX 2026 turut mendapat dukungan dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin). Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro, Putu Juli Ardika, menekankan dampak positif pameran terhadap pasar industri furnitur.
Kemenperin juga menyoroti capaian Manufacturing Value Added (MVA) Indonesia yang berada di posisi teratas di ASEAN dengan nilai mencapai 265,07 miliar dolar AS.
Fasilitas yang diberikan untuk mendukung industri furnitur antara lain penyediaan bahan baku, peningkatan kualitas sumber daya manusia terampil, peningkatan produktivitas, penguatan kapasitas dan kualitas produk, riset pasar, pengembangan sentra industri kecil menengah (IKM), dan penciptaan iklim usaha kondusif.
Upaya ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya memberikan insentif, tetapi juga membangun fondasi berkelanjutan agar industri furnitur nasional mampu bersaing di pasar global.
Strategi Ekspor dan Capaian Saat Ini
HIMKI mendorong anggotanya untuk memanfaatkan momentum pameran, sekaligus membuka peluang di pasar baru. Ekspansi ke wilayah Timur Tengah dan Afrika dianggap sebagai langkah strategis untuk menambah nilai ekspor, selain tetap mengoptimalkan pasar utama seperti Amerika Serikat dan Eropa.
Data Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat nilai ekspor produk furnitur dan kerajinan Indonesia di pasar dunia mencapai 2,22 miliar dolar AS atau senilai Rp36,07 triliun pada periode Januari–November 2024.
Angka ini menunjukkan bahwa industri furnitur nasional memiliki basis yang kuat untuk mewujudkan target enam miliar dolar AS per tahun dalam lima tahun mendatang.
Peningkatan ekspor tidak hanya menjadi indikator pertumbuhan ekonomi, tetapi juga membuka lapangan kerja dan meningkatkan kualitas produk lokal agar lebih kompetitif.
HIMKI menekankan pentingnya inovasi desain, pengembangan kualitas bahan baku, dan pemahaman tren global untuk menjaga daya saing produk furnitur Indonesia.
Prospek Masa Depan
Dengan dukungan pemerintah, pameran internasional, serta strategi ekspansi pasar baru, HIMKI optimistis ekspor furnitur nasional mampu menembus enam miliar dolar AS per tahun dalam lima tahun ke depan.
Potensi pasar global yang besar, bersama dengan kapasitas produksi dan kreativitas industri furnitur Indonesia, menjadi modal utama untuk mewujudkan target tersebut.
HIMKI juga menekankan pentingnya penguatan kemitraan internasional, akses pasar yang andal, dan inovasi produk agar industri furnitur nasional tetap relevan dan kompetitif.
Selain itu, pameran seperti IFEX menjadi ajang strategis untuk memperluas jaringan bisnis dan membangun citra positif industri kreatif Indonesia di mata dunia.
Dengan langkah-langkah yang terencana dan dukungan berbagai pihak, ekspor furnitur Indonesia diproyeksikan akan terus meningkat, mendukung pertumbuhan ekonomi nasional dan memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain utama di industri furnitur global.